Ingin Rebut Pistol, Bos Begal B13 Tewas Ditembak Tim Antibandit Polres Gowa

Pentolan sindikat pencurian kendaraan bermotor (curanmor) dan pencurian disertai kekerasan (curas) atau begal, Kiran Maulana, (21) tewas tertembak setelah berusaha merebut senjata api salah seorang personel Tim Antibandit Polres Gowa, Minggu, 21 Januari, sekira pukul 22.30 Wita.

Saat itu, warga Kelurahan Tombolo, Kecamatan Sombaopu, Kabupaten Gowa itu dibawa oleh enam personel Tim antibandit Personel Gowa untuk pengembangan mencari rekannya yang lain di salah satu lokasi di Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar.

Setelah turun dari mobil, Kiran yang dengan posisi tangannya tidak terborgol mendapatkan pengawalan ketat polisi yang berpakaian preman.

Awalnya, tersangka kooperatif untuk menunjukkan kediaman rekannya. Namun, tiba-tiba saat berjalan, ia hendak merebut pistol yang terselip di pinggang Bripda Hary. “Tiba-tiba dia (Kiran, red) yang berada di samping saya mau rebut pistol. Tetapi saya pertahankan,”beber Bripda Hary.

Hary berhasil mendapatkan pistolnya. Tembakan peringatan pun diberikan, namun tidak diindahkan Kiran. Tembakan tegas pun dilakukan polisi dan dua peluru menembus dada tersangka.

Tersangka dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar untuk mendapatkan penanganan medis, namun dalam perjalanan tersangka meninggal dunia.

Kapolres Gowa, AKBP Shinto Silitonga, menjelaskan tersangka merupakan pimpinan dari kelompok kejahatan di jalan bernama B13. “Ada tatto di pelipisnya dengan tulisn B13. Tersangka lainnya juga ada tatto serupa,”jelasnya.

Shinto merinci, aksi kejahatannya tersangka, yakni curas dan curanmor dengan 20 lebih lokasi kejahatan di wilayah hukum Polres Gowa. Tersangka, beber dia, sudah dua kali diringkus dalam kasus yang sama.

Kiran, beber dia, juga merekrut remaja hingga orang dewasa, dari umur 15 hingga 25 tahun untuk masuk ke sindikatnya. “Termasuk adiknya sendiri, Nasrum alias Aan (19), direkrut Kiran. Adiknya itu, juga memiliki tatto yang sama dengan tersangka Kiran. Tetapi adiknya terlebih dahulu diringkus,”jelasnya.

Dia juga mengimbau, bagi anggota sindikat Kiran yang relatif berusia remaja diimbau agar menyerahkan diri. ” Tm Antibandit tidak akan ragu melakukan tindakan tegas terhadap para penjahat jalanan yang mengancam jiwa dan menyerang personel saat dilakukan penangkapan,”tegasnya.

Terpisah, nenek tersangka Kiran, Cahaya (63) menyayangkan tindakan tegas dengan menembak di bagian dada cucunya itu. Menurutnya, polisi seharusnya melumpuhkan saja dengan menembak kakinya, jangan mengarah ke bagian dada yang mengakibatkan meninggalnya cucunya tersebut. Pentolan sindikat pencurian kendaraan bermotor (curanmor) dan pencurian disertai kekerasan (curas) atau begal, Kiran Maulana, (21) tewas tertembak setelah berusaha merebut senjata api salah seorang personel Tim Antibandit Polres Gowa, Minggu, 21 Januari, sekira pukul 22.30 Wita.

Saat itu, warga Kelurahan Tombolo, Kecamatan Sombaopu, Kabupaten Gowa itu dibawa oleh enam personel Tim antibandit Personel Gowa untuk pengembangan mencari rekannya yang lain di salah satu lokasi di Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar.

Setelah turun dari mobil, Kiran yang dengan posisi tangannya tidak terborgol mendapatkan pengawalan ketat polisi yang berpakaian preman.

Awalnya, tersangka kooperatif untuk menunjukkan kediaman rekannya. Namun, tiba-tiba saat berjalan, ia hendak merebut pistol yang terselip di pinggang Bripda Hary. “Tiba-tiba dia (Kiran, red) yang berada di samping saya mau rebut pistol. Tetapi saya pertahankan,”beber Bripda Hary.

Hary berhasil mendapatkan pistolnya. Tembakan peringatan pun diberikan, namun tidak diindahkan Kiran. Tembakan tegas pun dilakukan polisi dan dua peluru menembus dada tersangka.

Tersangka dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar untuk mendapatkan penanganan medis, namun dalam perjalanan tersangka meninggal dunia.

Kapolres Gowa, AKBP Shinto Silitonga, menjelaskan tersangka merupakan pimpinan dari kelompok kejahatan di jalan bernama B13. “Ada tatto di pelipisnya dengan tulisn B13. Tersangka lainnya juga ada tatto serupa,”jelasnya.

Shinto merinci, aksi kejahatannya tersangka, yakni curas dan curanmor dengan 20 lebih lokasi kejahatan di wilayah hukum Polres Gowa. Tersangka, beber dia, sudah dua kali diringkus dalam kasus yang sama.

Kiran, beber dia, juga merekrut remaja hingga orang dewasa, dari umur 15 hingga 25 tahun untuk masuk ke sindikatnya. “Termasuk adiknya sendiri, Nasrum alias Aan (19), direkrut Kiran. Adiknya itu, juga memiliki tatto yang sama dengan tersangka Kiran. Tetapi adiknya terlebih dahulu diringkus,”jelasnya.

Dia juga mengimbau, bagi anggota sindikat Kiran yang relatif berusia remaja diimbau agar menyerahkan diri. ” Tm Antibandit tidak akan ragu melakukan tindakan tegas terhadap para penjahat jalanan yang mengancam jiwa dan menyerang personel saat dilakukan penangkapan,”tegasnya.

Terpisah, nenek tersangka Kiran, Cahaya (63) menyayangkan tindakan tegas dengan menembak di bagian dada cucunya itu. Menurutnya, polisi seharusnya melumpuhkan saja dengan menembak kakinya, jangan mengarah ke bagian dada yang mengakibatkan meninggalnya cucunya tersebut.

Sumber: Fajar Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *