Seorang pengunjung memperhatikan anoa di Bontomarannu Education Park, Dusun Lantebung, Desa Pakkatto Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa.

Amerika Utara punya binatang endemik bernama rakun, Australia terkenal dengan kanguru, panda di Tiongkok, komodo di Pulau Komodo, unta di Jazirah Arab, dan bison binatang khas Amerika Serikat. Di Sulawesi ada anoa.

Dilansir wikipedia, anoa (Bubalus sp.) adalah mamalia endemik yang hidup di daratan Pulau Sulawesi dan Pulau Buton. Termasuk binatang yang tergolong fauna peralihan. Anoa tergolong satwa liar yang langka dan dilindungi Undang-Undang di Indonesia sejak 1931 dan dipertegas dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999.

Berangkat dari situ pula yang mendasari lembaga konservasi di Kabupaten Gowa ikut melestarikan anoa. Reporter berkesempatan mewawancarai Mukhlis Amans Hadi, Direktur CV Citra Satwa Celebes yang mengelola Bontomarannu Education Park. Mukhlis mengatakan, di lembaga konservasi yang berlokasi di Dusun Lantebung, Desa Pakkatto Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa ini, pihaknya punya berbagai jenis binatang. Ada rusa timor, kanguru papua, kasuari, cenderawasih, rangkong, mabrud, merak, macao scharlet, maleo sharlet, kasturi raja, kakak tua raja, serta masih banyak lagi. Dan, tentunya anoa.

Di Bontomarannu Education Park terdapat enam ekor anoa, tiga jantan dan tiga betina. Asalnya dari berbagai daerah. Ada yang dari Enrekang, Sorowako, dan Mamuju (Sulawesi Barat). “Perlu diketahui bahwa anoa itu termasuk binatang purba. Di Goa Leang-Leang ada gambar menggunakan darah. Ada yang menyebutnya itu babi rusa, tapi sebenarnya itu anoa. Hasil penelitian mengatakan gambar itu sudah ada 40.000 tahun lalu,” papar Mukhlis. Mukhlis membeberkan, sejak dahulu anoa termasuk binatang buruan favorit. “Itu karena dagingnya memang enak. Lebih garing dan lebih enak dari rusa. Makanya banyak yang buru,” ucap lelaki berkumis ini. Masyarakat di beberapa daerah di Sulawesi, anoa termasuk binatang yang disakralkan. “Jadi ada juga yang menjadikan anoa binatang suci. Jadi anoa itu kalau dikurbankan meningkat derajat keluarga,” sambungnya. Bukannya menentang perihal tersebut, namun menurut Mukhlis perilaku tersebut akan menjadikan populasi anoa kian berkurang. Bontomarannu Education Park tidak punya data pasti sebaran anoa di Sulsel, tetapi diperkirakan jumlahnya kini tinggal 100-an ekor.

Masyarakat juga perlu tahu anoa tidak seperti binatang lain yang bisa punya beberapa anak sekali melahirkan. “Anoa berbeda. Anoa itu tidak seperti misalnya kucing yang bisa langsung punya lima anak. Anoa sekali melahirkan cuma satu ekor. Ini menjadikan jumlah anoa lambat pertambahannya,” kata Mukhlis.
Beberapa hal tersebut yang menjadikan Bontomarannu Education Park getol betul melestarikan anoa. “Kami sudah memodel sedemikian rupa habitat anoa di sini. Kami punya lahan 3,5 hektare. Memang sampai sekarang tiga pasang anoa yang kami punya belum punya anak. Akan tetapi, ke depan tentu diharapkan jumlahnya bisa bertambah di sini,” beber Mukhlis.

Mukhlis pun aktif menyosialisasikan lembaga konservasi Bontomarannu Education Park. Salah satunya melalui akun facebook, Mukhlis Amans Hady. Dalam salah satu unggahannya, Mukhlis menayangkan sebuah video berdurasi 1 menit 10 detik berjudul “Kami melestarikan ANOA, binatang khas Sulawesi yang hampir punah ini”.

Ada warganet yang menanyakan terkait izin pemeliharaan sebab anoa termasuk hewan yang dilindungi. Namun sekadar informasi, Kementerian Kehutanan sudah mengeluarkan izin devenitif kepada Bontonmarannu Education Park dengan masa kontrak berlaku selama 30 tahun. Makanya, selain anoa, ada beberapa binatang langka dipelihara di sini.

Sumber: Makassar Terkini

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.