Rumah adat di kawasan Benteng Somba Opu, Kelurahan Benteng Somba Opu, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa dalam keadaan memprihatinkan. Selain atap-atap yang rusak parah, listrik pun telah dicabut.

Hal tersebut terungkap setelah rombongan mahasiswa Gowa mengunjungi rumah tersebut. Rencananya, mereka ingin menggelar pengkaderan di tempat itu.

“Saya dengan adik- adik rencananya ingin menggelar pengkaderan di sini. Namun, mendapati kondisi di rumah adat Gowa yang rusak dan terabaikan oleh pemerintah. Jadi, saya mengabadikan kondisi tersebut,” ungkap salah satu mahasiswa, Ilho Tiro yang dirilis aktivis demokrasi Gowa, Arfandy Palallo, Minggu (21/1/2018).

Tak hanya itu, kata aktivis mahasiswa ini, dia mendapat informasi dari penjaga rumah itu, Ramli Dg Sila, bahwa sudah 2 tahun listrik tersebut telah dicabut.

Sekilas, Benteng Somba Opu didirikan pada awal abad ke-16 atas usaha Raja Gowa ke-9 Karaeng Tumapaksiri Kallonna. Kemudian dilanjutkan Karaeng Tunnipalangga Ulaweng Raja Gowa ke-10 yang tampil memperkuat dinding benteng dengan batu padas.

Sampai dilanjutkan oleh Raja Gowa ke-16, Sultan Hasanuddin yang merupakan orang terakhir memerintah di Benteng Somba Opu sampai dihancurkan Belanda karena kekalahannya dalam perang pada tahun 1669.

Kini, benteng seluas 13 hektare ini, terdapat 24 bangunan miniatur rumah adat di dalamnya. Dan, dikelola Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) pengelola Benteng Somba Opu, Disbudpar Sulsel.

Sumber: Fajar Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.