Lebih dekat dengan Mesjid Tua Katangka yang kental dengan nilai historis


Sulawesi Selatan selalu menyajikan berbagai destinasi wisata dengan nilai historis yang begitu tinggi, sebut saja seperti Benteng Fort Roterdam, Monumen Mandala, Monumen Korban 40.000 jiwa dan banyak lagi.

Salah satu yang cukup menarik perhatian adalah destinasi wisata yang tidak hanya mengandung sisi historis yang tinggi, namun juga kental dengan nuansa religi adalah Mesjid Al-Hilal Katangka atau yang biasanya lebih dikenal dengan Mesjid Tua Katangka.

Masjid Al-Hilal merupakan salah satu mesjid tertua yang ada di Sulawesi Selatan. Mesjid ini dibangun pada tahun 1603 Masehi yang berlokasi di Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu di atas tanah seluas 610 meter. “Mesjid ini dibangun pada masa pemerintahan Raja Gowa XIV, yakni I Manganga’rangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin,” ungkap Pengurus Mesjid, Harun Rahman Daeng Mangngella, Rabu 16 Mei 2018.

Sejak berdiri, mesjid ini telah 6 kali mengalami renovasi, namun bentuknya tidak mengalami perubahan sedikit pun, keasliannya tetap terjaga. Harun menjelaskan bahwa dahulu, selain sebagai tempat untuk menunaikan ibadah, Mesjid Katangka juga digunakan sebagai benteng pertahanan terakhir. “Itulah kenapa dinding masjid ini dibuat tebal, ketebalannya mencapai 120 cm. Di sebelah selatan mesjid juga pernah ditemukan meriam, kini disimpan di kompleks makam sultan Hasanuddin,” ucapnya.

Dua tahun setelah berdirinya mesjid ini, penggunaannya bukan hanya sebatas tempat menunaikan ibadah, namun juga dijadikan sebagai pusat penyebaran agama Islam setelah Islam menjadi agama resmi di Kerajaan. “Jadi semua kegiatan-kegiatan terkait penyebaran agama Islam dipusatkan di mesjid ini,” kata Harun.

Jika menilik arsitektur Mesjid, akan ditemui kekayaan aneka budaya di dalamnya. Seperti bentuk tiang dan dinding masjid yang dipengaruhi oleh budaya Eropa, kemudian bentuk mimbar yang dipengaruhi oleh budaya Cina yang dipadukan dengan budaya Timur Tengah, sementara atapnya mengadopsi budaya Jawa. Bagian bangunan Mesjid ini pun dibangun tidaklah sembarangan, namun semuanya memiliki filosofi sesuai dengan agama Islam. Di dalam masjid ditemui 4 tiang penyangga besar yang bermakna 4 sahabat Rasulullah SAW yang terkenal, yakni Abu Bakar as Sidiq, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Tholib, Umar bin Khattab. Kemudian terdapat 6 Jendela yang bermakna 6 rukun Iman dan pintu Mesjid yang berjumlah 5 sesuai dengan rukun Islam.

Di sekitar Mesjid Katangka juga terdapat berbagai objek wisata Sejarah, terdapat 4 makam Raja-Raja Gowa di sekitaran Mesjid, di sebelah selatan ada makam Raja Gowa XXX dan Raja Gowa XXXII, di sebelah barat mesjid juga terdapat makam Syech Muhsin Assegaf yang berasal dari negeri Yaman. “Menurut sejarah beliau ini merupakan keturunan ke 28 Rasulullah SAW,” ucap Harun. Selain itu, juga terdapat TK/TPA di dalam lingkungan masjid sebagai wadah pengajaran Al Quran yang beraktifitas pada hari Senin hingga Jumat. Jadi tidak salah jika memilih Mesjid Tua Katangka sebagai destinasi wisata, selain beribadah juga bisa mempelajari sisi historis perkembangan Islam, utamanya di wilayah Gowa dan Makassar.

Sumber : Makassar Terkini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *