Mahkota Salokoa dari Kerajaan Gowa (Foto: @agil_karawisi).

Dalam sistem pemerintahan Kerajaan atau Kekaisaran yang lazim berlaku di sebagian besar monarki di Eropa dan Asia, istilah Trah/House/Family bermakna sebagai trah keluarga yang memimpin suatu kerajaan. Nama Trah/House/Family diambil dari nama keluarga laki-laki. Di kerajaan yang mengizinkan perempuan menjadi Ratu (queen/empress), apabila sang ratu bersuami, maka nama dinasti kerajaan selanjutnya merujuk kepada nama keluarga/family dari suami sang ratu. Sehingga nama Trah/House/Family dari sang ratu yang digunakan oleh ayahanda atau raja sebelumnya tidak lagi dipakai.

Sebagai contoh ketika Ratu Victoria of United Kingdom (1837-1901) menikah dengan Pangeran Albert of Saxe Coburg & Gotha. Maka otomatis nama Trah/House/Family dari Kerajaan Inggris berubah dari House of Hanover menjadi House of Saxe Coburg & Gotha. Belakangan Raja George ke-V of United Kingdom (1910-1936) mengubah menjadi House of Windsor karena nama Saxe Coburg & Gotha terkesan bercitarasa Jerman. Pada masa itu, Inggris berperang melawan Jerman di Perang Dunia pertama.

Sama seperti di Kerajaan Inggris, juga berlaku di Kerajaan Spanyol. Sebagai contoh ketika Putri Maria Theresa of Spain putri dari Raja Philip ke-IV of Spain (1621-1665) dinikahi oleh Raja Louise ke-XIV of France “The Sun King” (1643-1715). Penerus tahta Kerajaan Spanyol berikutnya yaitu Raja Philip ke-V of Spain (1700-1746) membawa nama Trah dari keluarga ayahandanya yaitu “House of Bourbon”.

Bagaimana dengan Trah/House/Family di Kerajaan Gowa ? Ada 3 masa di Kerajaan Gowa, saat suksesi kepemimpinan mengalir melalui jalur matrilineal (perempuan). Pertama melalui Tumanurung Bainea (Sombaya pertama), I Mariama Karaeng Pattukangang putri dari Sultan Abdul Jalil (Sombaya ke-19), dan Siti Khadijah Karaeng Parang-Parang yang merupakan putri dari Sultan Muhammad Ali (Sombaya ke-18). Jalur keturunan melalui pihak perempuan memungkinkan terciptanya nama Trah/House/Family yang baru. Nama trah diambil dari nama Trah/House/Family dari pihak suami dari sang ratu atau putri. Berikut nama trah keluarga yang pernah berkuasa di Kerajaan Gowa.

1. TRAH/HOUSE/FAMILY GOWA

Tahta Kerajaan Gowa dimulai dari momentum pengangkatan Tumanurung Bainea sebagai Sombaya ri Gowa yang pertama. Bila kita memakai pakem yang sama dari dinasti kerajaan-kerajaan di dunia maka seharusnya nama Trah/House/Family yang disandang oleh Raja Gowa berikutnya adalah Trah/House/Family Karaeng Bayo. Karaeng Bayo merupakan pasangan atau suami dari Tumanurung Bainea. Tetapi karena pada masa itu Tumanurung Bainea dan Karaeng Bayo adalah satu kesatuan pemimpin utama dari sebuah kerajaan baru yang bernama Gowa, maka nama Trah/House/Family yang lazim digunakan adalah trah Gowa.

Pada masa pemerintahan I Tunatangka/Tunarangka’ Lopi (Sombaya ke-6) trah Gowa terpecah menjadi 2 yaitu Gowa dan Tallo. Putra beliau yang bernama Batara Gowa Tuniawanga ri Parallakkenna (Sombaya ri Gowa ke-7) kemudian menjadi penerus dari Trah/House/Family Gowa. Sedangkan putra beliau yang lain yang bernama Karaeng Loe ri Sero kemudian menjadi Raja dan pemimpin dari Trah/House/Family baru bernama Karaenga ri Tallo (disingkat menjadi Trah Tallo saja).

Trah Gowa cukup lama memimpin Kerajaan Gowa yaitu hingga Sultan Abd. Jalil (Sombaya ri Gowa ke-19). Trah Gowa harus terputus dan berakhir di periode Sultan Abd. Jalil karena raja-raja Gowa berikutnya diteruskan melalui garis matrilineal (perempuan).

2. TRAH/HOUSE/FAMILY ARUNG TIMURUNG DARI BONE

Setelah trah Gowa, muncul nama Trah/House/Family baru. Walaupun pada dasarnya garis nasab/keturunan tidak terputus. Hanya saja penerus Raja Gowa berikutnya berasal dari garis matrilineal (perempuan). Sombaya ke-20, Sultan Shahabuddin Ismail (La Pareppa To Sappewali Karaeng Ana’ Moncong) adalah Raja Gowa yang pertama dan terakhir dari Trah Arung Timurung dari Bone. Ibunda beliau adalah I Mariama Karaeng Pattukangang putri dari Sultan Abdul Jalil (Sombaya ke-19). Sedangkan ayahanda beliau adalah La Patau Matanna Tikka Arung Timurung Sultan Azimuddin Mangkau ri Bone. Oleh karena itu, nama trah menggunakan nama dari pihak ayah yaitu Trah Arung Timurung dari Bone (gelar kebangsawanan dari Ayahanda beliau). Selanjutnya putri dari Sultan Shahabuddin Ismail (Sombaya ke-20) yaitu Siti Aminah Manningratu Matinroe ri Lanna’ menikah dengan I Makkasu’mang Sultan Safiuddin yang merupakan branch atau cabang dari Trah Tallo. Sehingga cucu dari Sultan Shahabuddin Ismail yaitu Sultan Abd Khair al Mansyur (ke-24), dan Sultan Abd Quddus (ke-25), serta cicit yaitu Sultan Usman Fahruddin (ke-26) dan Sultan Muh. Imaduddin (ke-27) kemudian tidak lagi menyandang nama Trah Arung Timurung. Tetapi kembali lagi menyandang nama Trah Tallo.

3. TRAH/HOUSE/FAMILY TALLO

Sejak Karaeng Loe ri Sero, Trah Tallo hanya memegang kekuasaan di Kerajaan Tallo (Entitas kerajaan yang dibawahi oleh Kerajaan Gowa). Tapi pada masa Sultan Sirajuddin (Sombaya ke-21 & 23) maka secara de facto Kerajaan Gowa diambil alih oleh Trah Tallo. Mengapa demikian? Berikut penjelasannya. Ibunda dari Sultan Sirajuddin adalah Siti Khadijah Karaeng Parang-Parang yang merupakan putri dari Sultan Muhammad Ali (Sombaya ke-18). Sedangkan ayahanda Sultan Sirajuddin adalah Sultan Abd. Kadir (Karaenga ri Tallo ke-9). Oleh karena itu, nama trah menggunakan nama dari pihak ayah yaitu Trah Tallo.

Trah Tallo kemudian terbagi lagi atas 3 branch/cabang yaitu trah dari I Makkasu’mang Sultan Safiuddin (Karaenga ri Tallo), trah dari Sultan Zainuddin (Sombaya ke-28), dan trah dari Sultan Najamuddin (Sombaya ke-22).

Trah Sultan Safiuddin kemudian terbagi lagi atas 4 ranting yaitu Trah Sultan Abd. Khair al Mansyur (Sombaya ke-24) Sultan Abd. Quddus (Sombaya ke-25), trah Sultan Abd. Rauf (Sombaya ke-30) dan terakhir trah dari I Mannyombali Krg Barangmamase. Trah terakhir inilah yang menurunkan pewaris tahta dari I Kumala Daeng Parani Karaeng Lembang Parang Sultan Abd. Qadir Aidid Tumenanga ri Kakoasanna (Sombaya ke-32) sampai Andi Idjo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang Sultan Muh. Abd. Kadir Aiduddin Tumenanga ri Jongaya (Sombaya ke-36).

Penulis: @wahyumasud (Pemerhati Budaya Makassar/Kerajaan Gowa).

1 Comment

  1. Klau melihat dari Kerajaan Goa – Tallo …itu mantap tetapi kurang lengkap kalau tdk melihat hubungan kekeluargaan Raja-Raja Tana Toddang …terkhusus Kerajaan Goa …Sombayya I dan Turunannya semua berhubungan trah …Anak – kemanakanG atau Purina – Saudara yg menjadi SOMBA di Kerajaan Goa …..dan garis ibu .biasa dikatakan APPAKATI’NO …Atau Ti’No Rua – rua …..SOMBA dan Permaisuri …..Tabe dan harus melihat kejadian Dunia Kerajaan Lain ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.