DPRD Sulsel Sarankan Lulusan SMP di Gowa Lanjut di SMA Swasta

Banyaknya lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Gowa yang terancam tidak dapat lanjut di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri dikarenakan keterbatasan kuota penerimaan. Hal itu disebabkan minimnya gedung SMA dan ruang kelas di Kabupaten Gowa. Ketua Komisi E DPRD Sulsel, Kadir Halid menyarankan agar lulusan SMP agar dapat melanjutkan pendidikan di sekolah swasta. “Kalau tidak dapat kuota di negeri, bisa masuk swasta,” kata Kadir di DPRD Sulsel, Rabu 25 Juli 2018.
Kadir menambahkan, berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) nomor 2 tahun 2017 tentang penyelanggaran pendidikan menengah, siswa yang bersekolah di swasta kategori tidak mampu atau miskin, akan mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah hingga lulus sekolah. “Semua disiapkan, mulai dari seragam sekolah hingga perlengkapan lainnya, bahkan Pemda harus siapkan biayanya sampai lulus SMA,” ujar Politisi Partai Golkar Sulsel ini. Lanjut Kadir, dalam Perda itu disebutkan bagi orang tua siswa yang tidak menyekolahkan anaknya akan dikenakan sanksi tegas. “Sanksi terberatnya itu pidana,” tuturnya.
Mengenai minimnya ruang kelas dan gedung SMA di Gowa, kata Kadir, hal itu menjadi PR bagi gubernur terpilih. “Memang harus tambah dan anggarannya harus disiapkan.” tutupnya.

Diberitakan sebelumnya, Legislator Gerindra DPRD Sulsel, Darnawansyah Muin mengatakan, minimnya gedung SMA Negeri di Kabupaten Gowa membuat siswa terancam putus sekolah. Belum lagi aturan yang dibuat oleh Pemerintah pusat bahwa setiap ruang kelas hanya diisi 32 siswa, sebab jika melebihi kuota tidak akan mendapatkan Bantuan Operasional Sekolah (BOS). “Sementara SMA di Gowa sangat minim, ini membuat lulusan SMP terancam putus sekolah,” kata Wawan sapaan akrab Darmawansyah Muin di Gedung DPRD Sulsel, Selasa 24 Juli 2018.

Ketua Bapilu DPD Partai Gerindra Sulsel ini memaparkan, jumlah gedung SMA di beberapa kecamatan di Gowa tidak sebanyak dengan gedung SMP. Menurut dia SMP jauh lebih banyak daripada gedung SMA. Dia membeberkan, di Kecamatan Somba Opu ada 9 SMP sedangkan SMA hanya ada 2, begitu juga di Kecamatan Barombong ada 8 gedung SMP sedangkan SMA hanya ada 1.

“Hampir semua kecamatan begitu, gedung SMP jauh lebih banyak dari pada SMA. Baru-baru ini saya Reses di Kecamatan Bajeng Barat, ada 200 orang putus sekolah, itu karena hanya 1 SMA di sana,” ujar Legislator Dapil III (Gowa-Takalar) ini. Olehnya itu, dia meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel untuk menambah gedung baru baru dan menambah ruang kelas baru. “Mereka juga mau masuk swasta, tidak ada uangnnya, jadi solusinya memang harus tambah gedung SMA baru dan ruang kelas baru, supaya tidak ada yang putus sekolah,” pungkasnya.

Sumber : Makassar Terkini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *